5 Tokoh Cendekiawan Muslim Terbaik Sepanjang Masa

Jendela Dunia |

Tokoh Cendekiawan Muslim merupakan orang-orang islam yang mendedikasikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan dan peradaban dunia. Berkat kepiawaian mereka , perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat dan menorehkan tinta emas dalam peradaban.


Berikut serupedia akan mengulas 5 Tokoh Cendekiawan Muslim Terbaik Sepanjang Masa. 


1. Ibnu Sina

Ibnu Sina (980-1037 ) dikenal juga sebagai "Avicenna" di Dunia Barat yaitu seorang filsuf , ilmuwan , dan dokter kelahiran Persia (sekarang Iran). Ia juga seorang penulis yang produktif yang sebagian besar karyanya yaitu wacana filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang , dia yaitu "Bapak Pengobatan Modern". Karyanya yang sangat terkenal yaitu al-Qānūn fī aṭ-Ṭibb yang merupakan Referensi di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Dalam ilmu kedokteran , kitab Al-Qanun goresan pena Ibnu Sina selama beberapa era menjadi kitab tumpuan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran , obat-obatan dan banyak sekali macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada era ke-12 masehi , kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris , Prancis dan Jerman. Al-Qanun yaitu kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.

Ibnu juga memiliki tugas besar dalam menyebarkan banyak sekali bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam duduk perkara energi Ibnu Sina menunjukkan hasil penelitiannya akan duduk perkara ruangan hampa , cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia.

Dikatakan bahwa Ibnu Sina memiliki karya tulis yang dalam bahasa latin berjudul De Conglutineation Lagibum. Dalam salah episode karya tulis ini , Ibnu Sina membahas wacana asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana Ibnu Sina mengatakan , “Kemungkinan gunung tercipta alasannya dua penyebab. Pertama menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa. Kedua alasannya proses air yang mencari jalan untuk mengalir. Proses menimbulkan munculnya lembah-lembah bersama dan melahirkan penggelembungan pada permukaan bumi. Sebab sebagian permukaan bumi keras dan sebagian lagi lunak. Angin juga berperan dengan meniup sebagian dan meninggalkan sebagian pada tempatnya. Ini yaitu penyebab munculnya gundukan di kulit luar bumi.”

Ibnu Sina dengan kekuatan logikanya -sehingga dalam banyak hal mengikuti teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan- dikenal pula sebagai filosof tak tertandingi. Menurutnya , seseorang gres diakui sebagai ilmuan , kalau ia menguasai filsafat secara sempurna. Ibnu Sina sangat cermat dalam mempelajari pandangan-pandangan Aristoteles di bidang filsafat. Ketika menceritakan pengalamannya mempelajari fatwa Aristoteles , Ibnu Sina mengaku bahwa ia membaca kitab Metafisika karya Aristoteles sebanyak 40 kali. Beliau menguasai maksud dari kitab itu secara tepat setelah membaca syarah atau penjelasan ‘metafisika Aristoteles’ yang ditulis oleh Farabi , filosof muslim sebelumnya.

Dalam filsafat , kehidupan Abu Ali Ibnu Sina mengalami dua periode yang penting. Periode pertama yaitu periode ketika ia mengikuti faham filsafat paripatetik. Pada periode ini , Ibnu Sina dikenal sebagai penerjemah fatwa Aristoteles. Periode kedua yaitu periode ketika Ibnu Sina menarik diri dari faham paripatetik dan ibarat yang dikatakannya sendiri cenderung kepada fatwa iluminasi.

2. Al-Kindi

Alkindi merupakan seorang filsuf yang pertama kali , sekaligus seorang dokter , jago optika , astronomi , geometri , dan jago musik. Neliau telah menghafal Al-Quran sajak umur 10 tahun.

Al-Kindi yaitu seorang ilmuwan besar yang setara dengan Ibnul Haitsam dan Al-Biruni. Dia memiliki fatwa besar yang mungkin mengungguli penemuan para ilmuwan besar lainnya sepanjang sejarah. Kalau saja dia tidak hidup pada masa itu , barangkali peradaban Islam tidak akan semaju waktu itu. Demikian juga pada masa Ibnul Haitsam , Al-Biruni , Al-Karakhi dan Ibnu Sina. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perkembangan peradaban terjadi alasannya pergerakan yang selalu bertambah atau dengan kata lain ada kerja berkesinambungan yang terus-menerus dilakukan antar generasi. 

Sebagaimana pada ketika itu , Arab tidak memiliki karya besar terjemah sebelumnya. Al-Kindi termasuk ilmuwan yang hidup pada masa pergerakan terjemah , dan dia sendiri yaitu seorang penerjemah. Para penerjemah buku-buku Al-Kindi mengatakan bahwa kumpulan buku-buku yang dikarang olehnya dalam bidang filsafat , kecerdikan dan banyak sekali macam ilmu lainnya , jumlahnya mencapai dua ratus buku. Bahkan Dr. Abdul Halim Muntashir mengatakan dalam bukunya "Tarikh Al-Ilm" bahwa buku yang dikarang Al-Kindi mencapai 230 buku.

3. Al-Farabi

Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi (872-950) disingkat Al-Farabi yaitu ilmuwan dan filsuf Islam yang berasal dari Farab , Kazakhstan. Ia juga dikenal dengan nama lain Abū Nasir al-Fārābi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Abu Nasr Muhammad Ibn Muhammad Ibn Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi , juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius , Al-Farabi , Farabi , dan Abunasir).

Al Farabi dianggap sebagai salah satu pemikir terkemuka dari era era pertengahan. Selama hidupnya al Farabi banyak berkarya. Jika ditinjau dari Ilmu Pengetahuan , karya-karya al- Farabi dapat ditinjau menjdi 6 bagian:
  • Logika 
  • Ilmu-ilmu Matematika 
  • Ilmu Alam 
  • Teologi 
  • Ilmu Politik dan kenegaraan 
  • Bunga rampai (Kutub Munawwa’ah). 

Karyanya yang paling terkenal yaitu Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas wacana pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan korelasi antara rejim yang paling baik menurut  pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah Islam.

4. Ibnu Rusyd

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd yaitu hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri yaitu seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu , ibarat kedokteran , hukum , matematika , dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.

Ibnu Rusyd yaitu seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat , Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Katolik di era pertengahan , termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan duduk perkara kedokteran dan duduk perkara hukum.

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat , kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan , ulasan , essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

5. Umar Khayyam

'Umar Khayyām (18 Mei 1048 - 4 Desember 1131) , dilahirkan di Nishapur , Iran. Nama aslinya yaitu Ghiyātsuddin Abulfatah 'Umar bin Ibrahim Khayyāmi Nisyābūri . Khayyām berarti "pembuat tenda" dalam bahasa Persia.

Pada masa hidupnya , ia terkenal sebagai seorang matematikawan dan astronom yang memperhitungkan bagaimana mengoreksi kalender Persia. Pada 15 Maret 1079 , Sultan Jalaluddin Maliksyah Saljuqi (1072-1092) memberlakukan kalender yang telah diperbaiki Umar , ibarat yang dilakukan oleh Julius Caesar di Eropa pada tahun 46 SM dengan koreksi terhadap Sosigenes , dan yang dilakukan oleh Paus Gregorius XIII pada Februari 1552 dengan kalender yang telah diperbaiki Aloysius Lilius (meskipun Britania Raya gres beralih dari Kalender Julian kepada kalender Gregorian pada 1751 , dan Rusia gres melakukannya pada 1918).

Dia pun terkenal alasannya menemukan metode memecahkan persamaan kubik dengan memotong sebuah parabola dengan sebuah lingkaran.

Pada 1073 , Malik-Syah , penguasa Isfahan , mengundang Khayyām untuk membangun dan bekerja pada sebuah observatorium , gotong royong dengan sejumlah ilmuwan terkemuka lainnya. Akhirnya , Khayyām dengan sangat akurat (mengoreksi sampai enam desimal di belakang koma) mengukur panjang satu tahun sebagai 365 ,24219858156 hari.

Ia terkenal di dunia Persia dan Islam alasannya observasi astronominya. Ia pernah membuat sebuah peta bintang (yang kini lenyap) di angkasa.

Filsafat Umar Khayyām agak berbeda dengan dogma-dogma umum Islam. Tidak terang apakah ia percaya akan kehadiran Tuhan atau tidak , namun ia menolak pemahaman bahwa setiap kejadian dan fenomena yaitu akhir dari campur tangan ilahi. Ia pun tidak percaya akan Hari Kiamat atau ganjaran serta hukuman setelah kematian. Sebaliknya , ia mendukung pandangan bahwa hukum-hukum alam menjelaskan semua fenomena dari kehidupan yang teramati. Para pejabat keagamaan berulang kali meminta dia menjelaskan pandangan-pandangannya yang berbeda wacana Islam. Khayyām akibatnya naik haji ke Mekkah untuk mengambarkan bahwa ia yaitu seorang muslim.



Artikel Jendela Dunia Lainnya :

Scroll to top