Fakta - Fakta Penting dalam Sejarah Penemuan Batik

Jendela Dunia |
Sejarah batik di Indonesia terkait dekat dengan perkembangan Kerajaan Majapahit dan penyebaran aliran Islam di Pulau Jawa. Dalam beberapa catatan , pengembangan batik banyak dilakukan pada zaman Kesultanan Mataram , lalu berlanjut pada zaman Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.



Kesenian batik di Indonesia telah dikenal semenjak zaman Kerajaan Majapahit dan terus berkembang hingga kerajaan berikutnya beserta raja-rajanya. Kesenian batik secara umum meluas di Indonesia dan secara khusus di pulau Jawa setelah simpulan era ke-18 atau awal era ke-19.

Berikut serupedia akan mengulas Fakta - Fakta Penting dalam Sejarah Penemuan Batik

1. Dari mana contoh batik diilhami? 

Dr. G.P Rouffaer , peneliti di Hindia-Belanda berpendapat bahwa teknik membatik kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilanka pada era ke-6 atau ke-7. 

Masih soal opini Rouffaer. Walau ia mengatakan teknik ini hasil penyesuaian budaya impor , ia juga menulis contoh gringsing sudah dikenal semenjak era ke-12 di Kediri , Jawa Timur. Dan contoh tersebut hanya mampu dibentuk dengan menggunakan alat canting.  Akhirnya kesimpulan doktor Belanda ini adalah: canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. 

Patut diketahui , tak ada budaya 'orisinil' dalam khasanah sejarah. Namun , pembentukan tradisi gres akan menghasilkan bentukan budaya yang juga 'baru'. Demikian pula pada batik , memang ada asimilasi budaya yang datang ke tanah Jawa. Tapi pada karenanya , jikalau benar canting ditemukan oleh masyarakat Jawa , maka batik menjadi budaya baru. Batik yaitu milik penduduk kepulauan Nusantara ini.

Hal ini mungkin sejalan dengan opini J.L.A. Brandes , arkeolog Belanda , dan F.A. Sutjipto , sejarawan Indonesia. Mereka ercaya bahwa tradisi batik yaitu asli dari kawasan ibarat Toraja , Flores , Halmahera , dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme , tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik.

2. Kapan teknik batik ini menjadi populer?

Teknik batik menjadi populer berkat goresan pena Sir Thomas Stamford Raffles dalam buku History of Java , 1817. Kita tahu , Raffles sempat menjadi Gubernur Inggris di Jawa. Selain batik , Raffles juga menguak Borobudur yang sempat 'hilang'. 

Batik juga semakin menarik minat masyarakat barat alasannya yaitu seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel , memperlihatkan selembar batik yang diperolehnya ketika berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam pada tahun 1873. Maka ketika dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900 , batik Indonesia memukau publik dan seniman.

3. Bagaimana Motif batik berkembang?

Membatik awalnya pekerjaan prestisius  kaum perempuan Jawa. Hingga ditemukannya "Batik Cap" yang memungkinkan masuknya laki-laki ke bidang ini. 

Motif batik aneka macam variannya ketika ini. Namun dari sisi akar budaya yang besar lengan berkuasa , pada prinsipnya motif tradisional digunakan oleh keluarga keraton. Hal ini jadi bukti , di masanya batik merupakan tekstil bergengsi. Untuk wilayah 'darat' atau Keraton  Yogyakarta dan Surakarta dikenal dengan batik sogan. 

Sementara batik Cirebon (mewakili keraton 'pesisir') biasanya bermotif mahluk laut dan pengaruh Tionghoa. Batik pesisir juga memiliki garis maskulin hingga mampu terlihat pada corak "Mega Mendung".

Mengenai batik sogan , dinamakan demikian alasannya yaitu pada awal mulanya proses pewarnaan batik ini  menggunakan pewarna alami yang diambil dari batang kayu pohon soga tingi. 

Batik Sogan memang jenis batik yang identik dengan kawasan keraton Jawa yaitu Yogyakarta dan Solo , motifnya pun biasanya mengikuti pakem motif-motif klasik keraton. 

Sogan Yogya dan Solo juga dapat dibedakan dari warnanya. Biasanya sogan Yogya mayoritas berwarna coklat tua-kehitaman dan putih , sedangkan sogan Solo berwarna coklat-oranye dan coklat. 

4. Kapan batik resmi diakui dunia?

Tanggal 2 Oktober 1999 sangat penting karena: Batik Indonesia secara resmi diakui UNESCO dengan dimasukkan ke dalam Daftar Representatif sebagai Budaya Tak-benda Warisan Manusia (Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity) dalam Sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah (Fourth Session of the Intergovernmental Committee) perihal Warisan Budaya Tak-benda di Abu Dhabi.

Artikel Jendela Dunia Lainnya :

Scroll to top