5 Ilmuwan Muslim di Bidang Kedokteran yang Paling Berpengaruh

Jendela Dunia |

Perkembangan dunia kedokteran memang tidak terlepas dari Ilmuwan Muslim yang mendedikasikan hidupnya untuk dunia kedokteran. Mereka mempelajari , meneliti hingga mempraktekan temuannya hingga meletakan pondasi bagi ilmu di bidang kedokteran.

berikut serupedia akan mengulas tentang 5 Ilmuwan Muslim di Bidang Kedokteran yang Paling Berpengaruh

1. Muhammad bin Zakariya ar-Razi


Ar-Razi lahir pada tanggal 28 Agustus 865 Masehi dan meninggal pada tanggal 9 Oktober 925 Masehi. Nama Razi-nya berasal dari nama kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di erat Teheran , Iran. Di kota ini juga , Ibnu Sina menyelesaikan hampir seluruh karyanya.

Saat masih kecil , ar-Razi tertarik untuk menjadi penyanyi atau musisi tetapi dia kemudian lebih tertarik pada bidang alkemi. Pada umurnya yang ke-30 , ar-Razi memutuskan untuk berhenti menekuni bidang alkemi dikarenakan banyak sekali eksperimen yang menyebabkan matanya menjadi cacat. Kemudian dia mencari dokter yang bisa menyembuhkan matanya , dan dari sinilah ar-Razi mulai mempelajari ilmu kedokteran.

Dia berguru ilmu kedokteran dari Ali ibnu Sahal at-Tabari , seorang dokter dan filsuf yang lahir di Merv. Dahulu , gurunya merupakan seorang Yahudi yang kemudian berpindah agama menjadi Islam setelah mengambil sumpah untuk menjadi pegawai kerajaan dibawah kekuasaan khalifah Abbasiyah , al-Mu'tashim.

Ar-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. 

Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) ialah buku pertama yang membahas ihwal cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. 

Selain itu , Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma” , dan ilmuwan pertama yang menulis ihwal alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya , dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada isu terkini panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.

Dalam kitab Mansuri dia menyebutkan semua anggota tubuh dan menjelaskan fungsinya masing-masing , dia menulisnya dengan sangat rinci. Ahli sejarah sepakat bahwa ar-Razi ialah mercusuar bagi kedokteran dalam dunia Islam dan barat hingga kala ke tujuh.

2. Abul Qasim az-Zahrawi


Ia dikenal di Barat sebagai Abulcasis , ialah salah satu pakar di bidang kedokteran pada masa Islam kala Pertengahan dan mendapat julukan “Bapak Operasi Moderen”. 

Karya terkenalnya ialah Al-Tasrif , kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid. Al-Tasrif berisi banyak sekali topik mengenai kedokteran , termasuk di antaranya ihwal gigi dan kelahiran anak. Buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerardo dari Cremona pada kala ke-12 , dan selama lima kala Eropa Pertengahan , buku ini menjadi sumber utama dalam pengetahuan bidang kedokteran di Eropa.

Kehebatan dan profesionalitas Al- Zahrawi sebagai spesialis bedah diakui para dokter di Eropa. ‘’Tak diragukan lagi , Al-Zahrawi ialah kepala dari seluruh jago bedah ,’‘ ucap Pietro Argallata. Kitab Al- Tasrif yang ditulisnya lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard of Cremona pada kala ke-12 M. Kitab itu juga dilengkapi dengan ilustrasi. Kitab itu menjadi tumpuan dan buku resmi sekolah kedokteran dan para dokter sera jago bedah Eropa selama lima kala lamanya pada periode kala pertengahan.

Sosok dan pemikiran Al-Zahrawi begitu dikagumi para dokter serta mahasiswa kedokteran di Eropa. Pada kala ke-14 M , spesialis bedah Prancis berjulukan Guy de Chauliac mengutip Al-Tasrif hampir lebih dari 200 kali. Kitab Al-Tasrif terus menjadi pegangan para dokter di Eropa hingga terciptanya era Renaissance. Hingga kala ke- 16 M , jago bedah berkebangsaan Prancis , Jaques Delechamps (1513 M – 1588 M) masih menjadikan Al-Tasrif sebagai rujukan.

3. Ibnu al-Nafis


Beliau merupakan orang pertama yang secara akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh insan (pada 1242). Penggambaran kontemporer proses ini telah bertahan. Khususnya , ia merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru. Secara besar-besaran karyanya tak tercatat hingga ditemukan di Berlin pada 1924.

Sebagai seorang dokter , Ibnu Nafis tidak pernah merasa puas dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya. Ia terus memperkaya pengetahuannya melalui banyak sekali observasi. Hal inilah yang membuat namanya terkenal. Ia ialah dokter pertama yang bisa menunjukan secara sempurna ihwal paru-paru dan menunjukkan gambaran mengenai jalan masuk pernapasan , juga interaksi antara jalan masuk udara dengan darah dalam tubuh manusia. Ibnu Nafis dikenal sebagai seorang dokter muslim yang mempunyai pendapat dan pemikiran yang masih murni , terbebas dari banyak sekali pengaruh Barat.

Dalam studinya , Ibnu Nafis menggunakan beberapa metode , yaitu observasi , survei , dan percobaan. Ia mempelajari ilmu kedokteran melalui pengamatan terhadap sejumlah gejala dan unsur yang mensugesti tubuh. Menurut Ibnu Nafis , selain melaksanakan pengobatan , memeriksa unsur-unsur penyebab munculnya penyakit juga perlu. Selain itu , ia juga memaparkan mengenai fungsi pembuluh arteri dalam jantung sebagai pemasok darah bagi otot jantung (Cardiac Musculature). Penemuannya mengenai peredaran darah di paru-paru ini merupakan penemuan yang menarik. Sehubungan dengan hal itu , Nafis dianggap telah menunjukkan pengaruh besar bagi perkembangan ilmu kedokteran Eropa pada kala XVI. Lewat penemuannya tersebut , para ilmuwan menganggapnya sebagai tokoh pertama dalam ilmu sirkulasi darah.

4. Abu Zaid al-Balkhi


Jauh sebelum barat mengenal metode penyembuhan penyakit jiwa dan daerah perawatannya , pada kala ke 8 M. Di kota baghdad telah didirikan rumah sakit jiwa atau insane asylums oleh para dokter dan psikolog islam. Hal itu disampaikan oleh Ibrahim B. PhD. Dalam bukunya yang berjudul: “Islamic Medicine: 1000 years ahead of its times”.

Konsep kesehatan mental atau at-Tibb ar-Ruhani pertama kali diperkenalkan di dunia kedokteran Islam oleh seorang dokter persia berjulukan Abu Zayd Ahmad Ibnu Sahl al-Balkhi , dia lahir pada tahun 850 dan wafat pada tahun 934.

Dalam bukunya berjudul “Masalih al-Abdan wa an-Anfus” , Al-Balkhi berhasil menghubungkan peyakit antara tubuh dan jiwa. Beliau menggunakan istilah ath-Thibb ar-Ruhani untuk menjelaskan kesehatan spritual dan psikologi.

Al-Balkhi mengelompokkan penyakit saraf dalam empat gangguan kondisi mental-kejiwaan , yaitu ketakutan dan kegelisahan (fear and anxiety) , amarah dan penyerangan (anger and aggression) , kesedihan dan depresi (sadness and depression) , serta obsesi atau gangguan pikiran (obsession).

Lebih lanjut al-Balkhi menggolongkan tiga jenis depresi , yaitu depresi normal atau kesedihan , depresi yang berasal dari dalam tubuh dan depresi yang berasal dari luar tubuh.  Individu yang sehat harus selalu menjaga kesehatan pikiran dan perasaan. Maka menurutnya ,  keseimbangan antara pikiran dan tubuh sangat diharapkan untuk memperoleh kesehatan yang prima. Sebaliknya ketimpangan antara keduanya justru akan menjadikan penyakit. Di samping itu , dia juga memperkenalkan konsep pengobatan yang berlawanan (al-‘ilaj bi l-dhid , reciprocal inhibition) , di mana konsep ini dikenalkan kembali ribuan tahun kemudian oleh Joseph Wolpe di tahun 1969.

Konsep kesehatan mental dan mental individu , menurutnya ,  selalu berhubungkait dengan kesehatan spiritual. Dia ialah orang yang pertamakali berhasil mengkaji bermacam-macam penyakit yang secara eksklusif mempunyai keterkaitan antara fisik dan jiwa , menyerupai yang diulasnya dalam kitabnya Masalih al-Abdan wa al-Anfus (Asupan Badan dan Jiwa).  Al-Balkhi menggunakan istilah al-Tibb al-Ruhani (pengobatan spiritual) untuk menggambarkan kesehatan jiwa , sedangkan untuk menjelaskan pengobatan mental , digunakannya istilah Tibb al-Qalb (pengobatan kalbu).

Al-Balkhi sering mengkritik dokter-dokter di zamannya alasannya selalu memfokuskan perhatian mereka pada penyakit fisik saja dan mengabaikan penyakit mental dan kejiwaan para pasiennya. Dia berargumen bahwa dikarenakan konstruksi insan terdiri dari jasmani dan rohani , maka keberadaannya tidak bisa dikatakan sehat tanpa adanya keterjalinan (isytibak) antara jiwa dan badan. Lebih lanjut dia katakan: “Jika tubuh sakit , jiwa pun akan banyak kehilangan kemampuan kognitifnya dan tidak bisa mencicipi kenikmatan hidup”. Sebaliknya dia juga menjelaskan “Jika jiwa sakit , tubuh pun kehilangan keceriaan hidup dan bahkan badannya pun bisa jatuh sakit”.

5. Ibnu Sina


Ibnu Sina yang juda dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat ialah seorang filsuf , ilmuwan , dan juga dokter kelahiran Persia. Ia juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya ialah ihwal filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang , dia ialah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal ialah Qanun fi Thib yang merupakan tumpuan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Ibnu Sina mendapat gelar “Medicorum Principal” atau “Raja Doktor” oleh kaum Latin Skolastik. Ia juga diberi gelar sebagai “Raja Obat”. Dalam dunia Islam , ia dianggap sebagai “Zenith” , puncak tertinggi dalam ilmu kedokteran .

Gelar asy-Syeikh ar-Rais (Mahaguru Utama) juga disandang Ibnu Sina atas jasanya menyembuhkan penyakit. Kisahnya bermula dikala Raja Bukhara , Nuh bin Mansur (memerintah 366-387 H) jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya. Saat itu Ibnu Sina berusia 18 tahun. Pada waktu itu penyakit sultan dalam keadaan parah dan tidak ada dokter lain yang berhasil mengobatinya. Akan tetapi berkat santunan Ibnu Sina , Raja kembali pulih.

Untuk mengenal Ibnu Sina bisa juga membaca 5 Tokoh Cendekiawan Muslim Terbaik Sepanjang Masa.

Referensi : 
[1]. id.wikipedia
[2]. https://www.satujam.com/sejarah-biografi-dan-kehebatan-ibnu-sina/
[3]. https://insists.id/profil-psikolog-muslim-abu-zaid-al-balkhi/
[4]. 
[5]. https://cipuntok.wordpress.com/kesehatan/5-ilmuan-muslim-terkemuka-di-bidang-kesehatan/

Artikel Jendela Dunia Lainnya :

Scroll to top