6 Terduga Teroris di Tuban, Satria Aditama Tewas Akibat Doktrin yang Sesat

Saya menemukan berita ini tadi pagi. Bukan berita baru (dalam hal konten, atau kejadian) sebenarnya, yang baru hanya pelaku dan -kemungkinan- cerita plus bumbu yang menyertainya.
Saya bukan mau bicara soal terorisme, bukan.

Menjadi penonton sekuel Jason Bourne bukan berarti bikin jago terorisme, spionase dan kontra spionase. Jujur saja nggak ada kompetensi soal itu, tahu diri. Tapi saya mau bicara dari satu sisi memprihatinkan tentang bagaimana anak-anak meneladani orang tuanya, anak-anak mempercayai apa yang diucapkan, ditulis, di copas dan dipaparkan terutama di media sosial.

Salah satu pelaku namanya Satria Aditama. Kalau dilihat paspor yang difoto aparat, usianya baru 21 tahun. Usia segitu sekolahpun (kalau dia kuliah) saya kira juga belum lulus. Masih anak "yesterday afternoon".



Saya teringat anak saya, Alifa. Sekarang sudah kelas 3 SMA. Waktu kecil, karena kami dulu tinggal di Bogor coret, pinggiran udah nyaris lewat luar kota Bogor. Di dinding rumah suka ketamuan Tokek. Cicak dalam ukuran jumbo ini enak saja berkeliaran di dinding rumah kami -kadang turun ke lantai- terutama saat menjelang hujan karena banyak laron. Makanan mereka.

Alifa, anak kecil ini dengan gembira dan berani mengejar tokek itu, kesana kemari. Tak ada rasa takut, berusaha menangkapnya. Hingga suatu kali, datang adik saya menginap (berarti om-nya Alifa) bilang padanya",Alifa, jangan pegang tokek. Nanti jarimu digigit sampai putus".

Dan sejak itu, Alifa takut pada Tokek. Sampai sekarang. Itulah bagaimana kekuatan sugesti kata-kata. Sugesti kata yang baik, berakibat baik. Demikian sebaliknya.

Setiap kali kami berdialog dengan anak-anak soal masa depan, kami selalu bilang : orang tak selalu harus menjadi pegawai supaya bisa hidup "layak". Orang harus berani merantau, supaya otaknya tidak "cupet". Sekolah itu bukan sekedar mengejar nilai, tapi meraih potensi "network" di masa depan.

Serta mengutip kata pak Rhenald Kasali : Penting dalam hidup kita jadi "driver", bukan jadi "passenger" melulu. Apalagi "passenger" yang buruk, cuma bikin gaduh, giliran mobil ngos-ngosan ketika nanjak bukit cuma bisa bilang "Tuh, kan ...apa kataku juga". Kami berharap itu menjadi sugesti yang baik. Semoga.

Tapi Satria Aditama, dia tidak sendiri. Bagaimana anak "yesterday afternoon" tanpa alasan yang jelas menembaki (bayangkan, menembak !) Polisi di jalan. Terlepas dia "pesuruh" ( siapapun dia yang menyuruh) ataukah dia pemain utama, saya tak terbayang sihir kata-kata apa yang ditanamkan di benaknya, hingga menjadi manusia yang sedemikian pembenci seperti itu, melakukan tindakan yang tidak hanya berpotensi melukai, tapi juga menghilangkan nyawa orang lain.

Fenomena membentuk generasi pembenci itu memang sudah marak saat ini. Beberapa foto demonstrasi, bila itu benar, memperlihatkan anak-anak di bawah umur, yang ngelap ingusnya sendiri saja masih susah, diajak berdemonstrasi...yang di situ banyak orang dewasa meneriakkan kata-kata kebencian.

Oke, dalihnya memperkenalkan mereka pada perjuangan. Tapi apakah benar makna "perjuangan" itu yang terekam di otak mereka. Yang mereka ingat mungkin hanya kata-kata "ganti presiden", "penjarakan penista", "bunuh kafir"... dan aneka rupa kata sejenis itu.

Anak-anak ini setiap hari berada, dan berinteraksi dengan orang tua yang -saya bilang- "benci" pada pemerintahnya sendiri. Bukan kritis, tapi benci.

Alih-alih mendapat suntikan semangat bekerja keras dengan etos positif, meraih prestasi tertinggi, berlomba memberi kontribusi terbaik pada ummat. Apa yang mereka lihat, baca, dengar dan rekam dalam pikiran adalah rasa tidak puas, tidak puas dan tidak puas.

Mereka tumbuh sebagai generasi yang bangga pada kelompok mereka, tapi tak punya rasa percaya diri. Terus berteriak ke sana-kemari, yang sebenarnya berusaha meyakinkan diri sendiri. Walaupun ini agak sarkas, mohon maaf, saya jadi ingat kata-kata Cesar Milan",Anjing yang terus menggonggong, adalah anjing yang tak percaya diri". Siapa Cesar Milan, nonton aja channel National Geographics.

Maka tidaklah mengherankan lahir makin banyak Satria Aditama dan generasi tidak puas lainnya. Generasi yang kebenciannya disugesti lewat kata-kata.

Maka penting men-sugesti anak-anak kita dengan kata-kata yang positif : penuh semangat meraih prestasi dan kontribusi.

Itu menurut saya, saya tak memaksa anda setuju kok.

Basri Adhi
Scroll to top