Raja Salman Juga Manusia Biasa, Dia Pernah Menyerang Yaman


Kunjungan Raja Salman dielu-elukan oleh para kaum bumi datar di negeri ini seolah-olah dia adalah orang suci yang istimewa hanya karena dikabarkan hapal Al Quran. Tapi sebagai manusia dan penguasa tentu saja dia tidak bisa lepas dari sifat egois, tamak dan serakah.

Dialah yang memerintahkan penyerangan atas Yaman yang telah menewaskan lebih dari 10.000 orang termasuk wanita dan anak-anak tak berdosa. Dan semua itu tentu saja tidak terlepas dari motif keuntungan ekonomi atas penguasaan sumber daya minyak.

Tulisan Joke Buringa seorang pengamat politik Timur Tengah yang diterjemahkan oleh Ibu Dina Sulaeman ini tentunya akan bisa membuka mata kita. Sikap kaum bumi datar terhadap kunjungan Raja Salman semakin menguatkan kesimpulan saya bahwa dogma juga bisa mematikan akal sehat dan hati nurani.

Pecah Belah dan Kuasai: Yaman & Pipa Minyak 

Oleh: Joke Buringa (diterjemahkan oleh Dina Sulaeman)

Saudi Arabia tidak menginginkan sebuah pemerintahan yang kuat dan demokratis di negara tetangganya, Yaman, yang memiliki garis perbatasan darat sepanjang 1500 kilometer dengannya. Arab Saudi menentang penyatuan Yaman Utara dan Yaman Selatan pada 1990. Arab Saudi mendukung, bersama dengan Kuwait, gerakan separatis Yemen selatan selama perang sipil tahun 1994 dengan biaya miliaran Dollar. Gerakan ini sangat mempengaruhi hasil proses transisi Yaman pasca 2011.

Ketika naik tahta pada 23 Januari 2015, Raja Salman bin Abdulaziz menunjuk anaknya Mohamed bin Salman (34) sebagai menteri pertahanan. Arab Saudi, didukung oleh beberapa negara, pada 25 Maret 2015 memulai serangan udara [menjatuhkan bom-bom dari pesawat tempur] ke Yaman atas permintaan pemerintahan yang tidak sah [sudah terguling/melarikan diri pasca demo-demo reformasi], Abd Rabbu Mansour Hadi. Lima pekan kemudian, Menlu Saudi yang berpengalaman dan berpemikiran dalam (Pangeran Saud Al Faisal) digantikan oleh ex-Duta Besar Saudi untuk AS (Adel bin Ahmed Al Jubeir).

Pada saat yang sama Aramco, perusahaan raksasa migas Saudi direstrukturisasi. Dewan Tinggi Perminyakan dibubarkan dan sebuah Dewan Tinggi dibentuk, dikepalai oleh Menteri Pertahanan. Sang menteri juga menjadi ketua Dewan Ekonomi dan Pembangunan. Perkembangan ini tidak bisa dilihat secara terpisah dari serangan Saudi ke Yaman.

Sektor energi merupakan 90% pendapatan Saudi dari ekspor, dan 45% dari GNP Saudi. Keamanan regional karena itu menjadi amat penting bagi Saudi. Pada 2013 30% semua minyak Saudi diangkut melalui jalan laut (dari Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab/UEA, dan Iran) melewati Selat Hormuz, melewati teritori laut Iran dan Oman. 85% minyak ini ditujukan ke Asia. Gas juga merupakan produk ekspor penting, terutama bagi Qatar.

Kekhawatiran bahwa Iran akan memblokade selat Hormuz Strait dan kemungkinan dampak buruk ekonomi global telah muncul selama bertahun-tahun. AS karena itu menekan negara-negara Teluk untuk membangun jalur alternatif. Pada 2007 Arab Saudi, Bahrain, UEA, Oman dan Yaman bersama-sama meluncurkan proyek Jalur Minyak Trans-Arabia. Jalur baru ini akan dibangun dari Ras Tannurah (Saudi) di Teluk Persia dan dari UEA ke Teluk Oman (satu ke Emirat –Fujairah- dan dua jalur ke Oman) dan ke Teluk Aden (dua jalur ke Yaman). Sebagai tambahan, Kuwait juga akan digabungkan ke dalam proyek ini. Sejauh ini, hanya jalur antara Abu Dhabi dan Fujairah (keduanya di UEA) yang telah selesai dan mulai beroperasi tahun 2012.

Cetak Biru Jaringan Regional Agustus 2007

Perkembangan yang terjadi antara AS dan Iran telah memunculkan ketidakpastian bagi Saudi terkait selat Hormuz. Pada 2014 Iran dan Oman menandatangai perjanjian untuk membangun jalur pipa dari Iran ke Oman untuk mengekspor gas Iran ke Oman. Rasa tidak percaya kepada niat Oman telah membuat kawasan Hadramaut (Yaman) semakin dilirik oleh Arab Saudi untuk mewujudkan impian lamanya (membangun jalur alternatif yang tidak bergantung kepada Iran).

Namun demikian, mantan Presiden Yaman, Presiden Ali Abdullah Saleh (menjabat 1978-2012) menolak adanya jalur migas di bawah kontrol Saudi di dalam kawasan Yaman. Selama bertahun-tahun, Saudi memberikan uang kepada para pemimpin suku-suku Yaman dengan harapan proyek jalur minyak itu bisa direalisasikan setelah Saleh tak lagi menjabat. Namun, demo-demo anti pemerintah pada tahun 2011 yang menyerukan demokratisasi telah menghalangi rencana ini.

Ketika situasi menjadi tak bisa lagi dipertahankan, negara-negara Teluk -di bawah pengawasan AS dan Uni Eropa- meyakinkan Saleh untuk mundur dengan jaminan keamanan. Wakil Presiden, Mansour Hadi, akan mengambil alih kepresidenan hingga dilakukannya pemilu. Secara de facto, sistem lama tetap berjalan. Kemudian dilakukan dialog nasional menghasilkan keputusan membagi Yaman menjadi 6 negara federal.

Dalam dialog itu diputuskan Provinsi Hadramaut, Shabwa dan al Mahra akan bergabung dalam satu negara baru bernama Hadramaut. Ketika ditanya tahun lalu [2014], Menteri Informasi Yaman saat ini, Mrs. Nadia Sakkaf (tinggal di Riyadh) tidak bisa menjelaskan bagaimana keputusan ini diambil: dalam sehari keputusan ini diambil. Negara baru Hadramaut berpenduduk 4 juta (dari total populasi 26 juga), luasnya 50% dari luas Yaman, menjadi sumber bagi 80% hasil minyak yang diekspor, dan memiliki sumber air yang cukup, berkebalikan dengan wilayah Yaman lainnya. Selain itu, di sana juga ditemukan cadangan emas senilai 4 miliar Dollar.

Setelah menandatangai Perjanjian Jeddah yang membahas mengenai batas di antara kedua negara pada tahun 2000, Arab Saudi memulai pembangunan dinding setinggi 3 meter sepanjang perbatasn dimulai dari Laut Merah, namun belum mencapai Hadramaut. Provinsi Hadramaut adalah satu di antara sedikit kawasan yang tidak mendapatkan serangan bom dari pesawat tempur Saudi. Pelabuhan dan bandara internasional Al Mukalla dalam kondisi prima di bawah kontrol Al Qaeda. Lebih lagi, Arab Saudi telah mengirimkan senjata kepada Al Qaeda, yang telah memperluas pengaruhnya. Jalur pipa minyak menuju Mukalla kemungkinan akan jadi dibangun.

Joke Buringa adalah pengambil kebijakan di Kementerian Luar Negeri Belanda. Dia bekerja di Departemen Africa Utara dan Dunia Arab. Dia memiliki spesialisasi di bidang kerjasama pembangunan, gender, dan politik energi di Timur Tengah, terutama di Teluk.