Jangan Sampai Dehidrasi Saat Ikut Lomba Lari, Kisah Ini Jadi Pelajaran Bagi Kita


Tak pernah terbayang oleh Grace Santoso (44) bahwa suaminya, Dekson Pranatio (46) yang dulu begitu bugar, penuh energi, dan sangat mencintai olahraga itu kini perlu bantuan orang lain untuk menggerakkan tubuhnya. Insiden saat mengikuti acara lari half marathon tahun lalu mengubah banyak hal di hidup mereka. Sambil menahan emosi karena mengingat insiden itu, Grace menceritakannya kepada femina.

Seperti Hutan yang Terbakar Habis

Dekson sudah lama menyukai olahraga. Hampir tiap hari ia berolahraga, bahkan bisa dua kali dalam sehari. Ia ikut klub tenis, gym, lari, dan juga yoga. Saya juga suka berolahraga, tapi saya memilih pilates dan yoga. Dulu, ia juga sempat menggemari olahraga motocross.

Sejak tahun lalu, ia bersemangat mengikuti berbagai lomba lari yang booming di Jakarta. Apalagi, teman-teman bermain tenisnya juga ikut menggemari olahraga lari. Saya malah merasa aman saat ia menekuni lari, ketimbang saat ia suka motocross yang membuatnya sering beraksi di medan yang berbahaya.

Tak hanya suka berolahraga, ia juga menerapkan gaya hidup sehat dan menjaga pola makan dengan menghindari gorengan dan junkfood. Di antara teman-temannya, Dekson pun selalu berusaha menularkan gaya hidup sehat. Ia juga mengajari saya mengenai postur dan cara berjalan yang benar. Ia memang senang berbagi ilmu.

Di waktu luang, ia selalu membaca buku-buku tentang kesehatan dan olahraga, termasuk tentang lari. Belakangan, ia serius mempelajari lari, dari teknik hingga nutrisi yang mendukung, sampai ikut coaching clinic lari. Ia bahkan sudah berencana ikut pelatihan Chi Running di Amerika.

Pengetahuan ini membuatnya tidak sembarangan berlari. Ia menggunakan alat pemantau denyut jantung yang dipasang di dada dan jam khusus yang memberi petunjuk atas kondisi tubuhnya saat berlari. Ia sadar, ia sudah tidak sekuat mereka yang berusia 20-an, sehingga harus berhati-hati.

Meski begitu, kemampuannya terus meningkat. Pada tahun 2014, ada sepuluh lomba lari yang ia ikuti. Bahkan, pada Oktober 2014 ia berhasil menyelesaikan half marathon pertamanya di ajang Jakarta Marathon.

Karena itu, tak ada kekhawatiran singgah di benak saat saya mengantarnya ke BSD, Tangerang, 23 November 2014 lalu, untuk mengikuti ajang Half Marathon. Sebelum matahari terbit, kami sudah berangkat dari rumah daerah Jakarta Pusat bersama teman-teman klub tenis Dekson.

Yang saya ingat, saat itu ia terlambat start karena agak sulit mencari lokasi parkir, lalu ia sempat kembali ke mobil untuk mengambil minuman elektrolit. Seperti biasa, Dekson sudah mempersiapkan minum, memasang jam dan alat pengukur jantungnya. Ia mengenakan sepatu lari abu-abu yang ia sebut his lucky shoes. Sayang, hari itu ia justru mengalami insiden terburuk dalam hidup.
Bersama teman, saya menunggu Dekson di garis finish. Saat itu, saya sempat melihat seorang pacer, pelari yang menjadi acuan kecepatan, pingsan saat mencapai garis finish. Saya juga mendengar ada seorang peserta yang ambruk 300 meter sebelum garis finish. Saya melihat ada orang berlari-lari membawa tabung oksigen.

Yang mengherankan, mereka membawanya menggunakan mobil polisi, bukan ambulans. Saat itu saya juga melihat ada kaki yang terjulur dari mobil polisi itu, tapi saya tidak melihat dengan jelas karena cukup jauh. Saya tidak menduga bahwa itu adalah suami saya.

Saya mulai cemas saat melihat teman Dekson yang selalu berlari lebih lambat dari suami saya mencapai finish. Saya bertanya kepada teman-temannya, tapi tidak ada yang melihat suami saya. Saya coba hubungi ponselnya, tapi tidak diangkat. Perasaan saya sudah tidak enak. Saat itulah saya mendapat telepon dari staf rumah sakit di BSD yang mengabarkan bahwa Dekson berada di rumah sakit. Saya pikir, mungkin Dekson hanya kelelahan karena hari itu memang cuaca sangat panas. Namun ternyata, yang saya hadapi sungguh di luar dugaan.

Sesampainya di rumah sakit, saya melihat suami saya sudah dalam keadaan tidak sadar di ruang ICU. Tubuhnya ditempeli alat-alat bantu. Dokter mencurigai ini serangan jantung. Karena, menurut rekaman jam dan alat pemantau jantung yang dikenakan Dekson, jantungnya sempat tidak berdenyut selama 15 menit.

Bola matanya juga memutih, tidak memberi respons. Air seni Dekson kental berwarna merah darah. Dekson mengalami dehidrasi parah. Di kemudian hari saya membaca di media sosial, hari itu water stations yang seharusnya menyuplai air minum untuk peserta half marathon tersebut sangat kurang sehingga menyebabkan banyak pelari hampir pingsan atau cedera akibat dehidrasi.

Malam itu Dekson dirawat di BSD. Nyawanya berhasil selamat, tapi ia masih tidak sadar. Dokter bilang, mereka mencurigai bahwa ada masalah pada jantungnya dan berencana akan melakukan operasi untuk memasang ring atau bypass. Saya dan keluarga tidak sreg dengan rencana itu. Jadi, kami memutuskan membawa Dekson ke Singapura, tengah malam keesokan harinya.

Saat tiba di rumah sakit di Singapura, tim medis yang sudah menanti langsung menangani. Tubuh Dekson didinginkan. Menurut dokter yang menangani saat itu, semestinya kasus Dekson ditangani dengan infus dingin untuk mencegah kerusakan lebih parah. Selama di Singapura, Dekson masih koma sehingga harus dirawat di ICU selama 8 hari. Masalah yang perlu dikhawatirkan ternyata bukan di jantung, melainkan otak yang sempat tidak dialiri oksigen. Betul saja, dari hasil tes magnetic resonance imaging (MRI) yang dilakukan kemudian, dokter memastikan Dekson mengalami kerusakan otak.

Hasil MRI menunjukkan, hampir seluruh otak, kecuali batang otaknya, rusak. Menurut dokter, Dekson tetap akan bisa bernapas tanpa alat bantu, memberi refleks, dan membuka mata. Tapi selain itu, suami saya sudah tidak ada. Ibarat hutan, otaknya hangus terbakar hingga ke akar-akar dan tidak bisa beregenerasi.

Hancur rasanya hati saya saat mendengar dokter mengatakan bahwa kerusakan itu bersifat permanen. Dekson tidak akan pernah kembali seperti dulu. Itu sama saja dengan saya sudah kehilangan suami saya. Walau mengalami kerusakan otak, organ-organ tubuh lainnya, seperti jantung, paru-paru, hati, dan ginjal baik-baik saja. Dokter pun heran, menurut mereka mungkin ini karena kondisi fisik Dekson selama ini sangat bugar.

Sungguh menyedihkan, saat berada di Singapura, saya melihat acara lari dengan sponsor yang sama digelar. Sungguh iri saya melihat kesiapan panitia di sana, seperti water stations dan ambulans yang terlihat siaga di mana-mana. Saya berpikir, seandainya saja persiapan serupa dilakukan panitia acara lari di Jakarta, mungkin suami saya tidak akan sampai sakit separah itu.

Setelah dua minggu dirawat, dokter mempersilakan saya membawanya pulang karena secara medis tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Menjelang kepulangan Dekson, kami harus mempersiapkan mental anak-anak dan ruangan di rumah untuk merawatnya. Kami juga segera mencari perawat khusus ICU karena ia kini harus makan lewat lubang yang dibuat langsung menuju lambungnya.

Ia juga tak bisa menelan sehingga lehernya dilubangi untuk menyalurkan dahak. Karena tidak bergerak, paru-parunya juga mengalami penurunan kekuatan sehingga Dekson rentan terkena infeksi, sehingga kamar yang ia tempati harus selalu dalam keadaan steril.

Waspada Pneumonia

Kalau dulu lima hari dalam seminggu Dekson berolahraga, kini 5 kali dalam seminggu ia perlu bantuan terapis untuk menggerakkan otot-otot tubuhnya agar tidak kaku. Jika dulu Dekson memiliki sederet sepatu olahraga, kini ia harus mengenakan sepatu khusus untuk mencegah kakinya bengkok akibat tak digerakkan.

Saya mencari pendapat dari pakar-pakar di sini, namun semua mengatakan hal yang sama. Walaupun dokter-dokter mengatakan sudah tidak ada harapan bagi Dekson, saya tidak mau menyerah begitu saja. Tiap ada saran dari teman atau keluarga untuk mencoba terapi ini-itu, saya akan coba. Kami juga setuju untuk mencoba obat eksperimen dari Singapura.

Untuk memantau kesehatannya, tiap minggu ada dokter yang memeriksanya di rumah. Tiga kali seminggu Dekson juga melakukan terapi akupunktur dan 2 kali seminggu mengikuti speech therapy untuk melatihnya agar bisa menelan. Saya pikir, tidak ada salahnya mencoba berbagai cara untuk memperbaiki kondisinya.

Tiap hari, kami selalu berusaha mengajak Dekson mengobrol. Meskipun ia tidak bisa menanggapi, saya berharap dengan mengajaknya berkomunikasi akan ada perkembangan pada otaknya. Sesekali, kami juga mengajaknya berjalan-jalan, seperti ke taman, kantor digital printing miliknya, atau lapangan tenis. Raket tenis sengaja saya letakkan di dekat tempat tidurnya, untuk membangkitkan ingatannya.

Kami memang berusaha mensyukuri tiap perkembangan yang terjadi. Saat dibawa pulang dari Singapura, matanya belum bisa melihat dan bereaksi menutup atau membuka. Lalu, mata dan kepalanya hanya bisa melihat ke arah kiri. Kini, mata dan kepalanya sudah bisa mengikuti gerakan dari kiri ke kanan, walaupun sangat pelan. Saya terus berdoa agar ada mukjizat bagi kesembuhannya.
Menurut dokter saraf yang merawatnya, hal terpenting yang harus kami lakukan bagi Dekson kini adalah menjaganya agar tidak terserang pneumonia, radang akut pada jaringan paru-paru akibat infeksi kuman, yang menyebabkan gangguan paru-paru dan pernapasan. Kata dokter, biasanya gangguan kesehatan ini yang membuat penderita koma ’kalah’.

Ujian pertama sudah kami alami. Beberapa waktu lalu, Dekson mengalami demam terus-menerus. Kami beri panadol, namun demamnya tidak kunjung turun. Akhirnya, kami melakukan pemeriksaan darah. Ternyata, Deskon mengalami infeksi kuman pneumonia.

Karena selama ini tubuh Dekson telah menerima berbagai antibiotik, kuman di tubuhnya menjadi resisten. Kami terpaksa menggunakan obat yang sangat kuat dan luar biasa juga harganya untuk melawan kuman pneumonia itu. Syukurlah, akhirnya ia sembuh.

Berusaha Tegar

Bukan hanya Dekson yang berusaha sembuh, saya juga masih berupaya memulihkan mental saya yang jatuh. Dua bulan setelah kejadian itu, hidup saya terfokus pada Dekson, pria yang telah saya kenal selama 25 tahun. Sepanjang waktu saya berada di sisinya. Saya kehilangan nafsu makan dan tidak bisa tidur. Saya tidak bisa memikirkan hal lain.

Saya juga menutup diri dari dunia luar. Puji Tuhan, saya diberi kekuatan. Selama mengurusinya, saya tidak pernah sakit. Anak-anak, Gabriella (16) dan Nadira (14), adalah alasan saya untuk bangkit. Sesungguhnya ada rasa bersalah karena waktu saya untuk anak-anak kini sangat sedikit. Namun, saya merasa sangat beruntung dikaruniai anak-anak yang berhati kuat, meskipun saya tahu mereka pasti juga merasa sedih.

Hingga kini pun saya masih sulit tidur. Bahkan, terkadang saya harus dibantu obat agar bisa tidur dan merasa lebih tenang. Anak-anak yang pengertian bergantian menemani saya tidur karena saya sering emosional saat berada sendirian di kamar. Saya juga berusaha berdamai dengan keadaan lewat doa dan membaca buku-buku self help. Satu yang saya petik dari buku, untuk mencegah kekhawatiran berlebih, janganlah kita terlalu sering mengingat masa lalu dan terlalu memikiran masa depan. Ternyata, memang itu benar adanya.

Baru masuk mal atau resto yang dulu sering kami kunjungi atau menonton acara televisi yang biasa ditonton Dekson saja, pikiran saya langsung dipenuhi kenangan akan dirinya yang masih bugar. Saya bisa langsung menangis karena terbawa emosi.

Sebetulnya, dulu setelah half marathon itu kami berencana akan berlibur sekeluarga ke Amerika. Rupanya, Dekson sudah belanja online aneka perlengkapan olahraga, mulai dari sepatu olahraga hingga matras yoga, yang dikirimkan ke alamat saudara kami di Amerika. Semua itu saya minta diberikan kepada orang lain, saya tidak mau melihatnya.

Namun pelan-pelan, saya kembali berolahraga, walaupun tiap kali yoga, saya selalu teringat Dekson. Meski juga sempat merasa emosi tiap mendengar lomba-lomba lari, kini saya tidak membenci olahraga lari. Saya juga mendengar, tahun ini acara marathon yang diikuti Dekson itu tidak dilakukan di Indonesia, entah apa alasannya.

Saya bersyukur Dekson bukan satu-satunya pencari nafkah. Sejak dulu saya memang bekerja mengurus usaha kuliner milik keluarga. Entah bagaimana jadinya jika keluarga besar dan teman-teman saya serta Dekson tidak membantu. Apalagi, pihak penyelenggara lomba lari yang pernah menengok dan melihat kondisi Dekson waktu itu, meski menawarkan bantuan keuangan, hingga kini tidak pernah merealisasikan tawaran tersebut.

Menjelang setahun setelah kejadian itu, kenangan mengerikan tentang kejadian yang menimpa Dekson kembali mengusik kami sekeluarga. Anak saya setengah emosi meminta saya untuk tidak diam, ia meminta saya mengabarkan kepada dunia tentang kondisi suami saya.

Akhirnya, saya menulis status di Facebook. Saya katakan, “Saya ingin orang-orang tetap mengingat Dekson Pranatio, pria dan ayah dari 2 anak perempuan, yang luar biasa kuat. Mengingat betapa ia sangat mencintai hidupnya, dan ternyata betapa rapuhnya hidup seseorang. Tragedi ini membawa dampak tidak hanya secara finansial, tapi juga mental bagi seluruh keluarga.

Seperti halnya oksigen yang membuat paru-paru dan otak tetap berjalan, hidup kami masih berjalan karena kami masih memiliki harapan. Harapan membuat kami bisa menjalani hari demi hari, walaupun tidak ada canda tawa yang sama lagi. Kami sayang padamu dan akan terus bersamamu melalui perjalanan panjang ini, Dekson Pranatio. Kami akan menerimamu apa adanya sebagai seorang suami, ayah, anak, dan saudara pada saat kesadaranmu kembali lagi, bahkan jika kamu menjadi seseorang yang berbeda.”

Dulu, saya dan Dekson berencana akan pindah ke Bali saat anak-anak sudah lebih dewasa. Kami ingin berusaha agrobisnis di sana. Kini semua rencana itu musnah. Meski begitu, saya tidak terlalu merisaukannya. Saat ini, saya hanya berharap kami dapat bersama lebih lama.
Scroll to top