Doa Berisi Kebencian, Apakah Pantas Dilakukan Seorang Ulama?

Ada cukup banyak orang yang mengkritik Habieb Rizieq melalui Facebook, apakah ini bisa dianggap menghina ulama? Menurut saya, sebagai manusia para ulama pasti tidak luput dari kesalahan. Dan banyak orang yang menganggap bahwa Habib Rizieq tidak pantas disebut sebagai ulama. Meskipun gelar keagamaan berderet, selalu memakai sorban, dan punya banyak pengikut, namun fakta membuktikan bahwa tindak tanduk Habib Rizieq justru banyak menimbulkan keresahan di masyarakat.

Kalau kita perhatikan, Habib Rizieq memang paham soal syariat dan penafsiran, tapi seringkali hanya text book saja. Padahal ilmu agama itu jauh lebih rumit, abstrak dan kompleks, lebih dari sekedar tulisan yang kita baca dalam teks formal. Dalam Islam, syariat hanyalah pelajaran dasar, ibarat DF atau ibarat anak tangga pertama saja. Di atas itu masih ada lebel thariqat, haqiqat, dan ma'rifat sebagai yang tertinggi yang dalam istilah akademis bisa diibaratkan sebagai pendidikan lanjutan SMP, SMA, dan perguruan tinggi.

Habib Rizieq hanya paham penafsiran ala otak kiri, dan dia sama sekali tidak memiliki kecerdasan emosional (Emotional Quotient) dan kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient) yang seharusnya dimiliki oleh orang yang disebut sebagai ulama. Meski muslim, tapi saya sudah dengarkan ratusan rekaman khotbah dari pendeta dan penginjil dan tak pernah satupun saya mendengarkan khotbah biadab, penuh kebencian dan kekasaran semacam mulut kotor Rizieq ini. Apalagi nasehat dari para biksu, resi, pinisepuh, pertapa dan guru suci yang selalu memancarkan kesejukan, kedamaian, kebajikan, kebijaksanaan dan pencerahan. Saya mencoba mempelajari beragam agama dari beragam sisi sehingga input data saya lumayan lengkap dan bisa mengambil kesimpulan yang cukup adil, obyektif dan bisa dipertanggungjawabkan.

Alih-alih menciptakan kedamaian, Habib Rizieq telah menebarkan banyak kebencian dan benih-benih permusuhan sehingga tidak selayaknya dibiarkan terus bebas berkeliaran menebar provokasi kemana-mana. Banyak jiwa-jiwa polos yang telah dia sesatkan. Orang ini berbahaya untuk NKRI dan mengancam keragaman yang merupakan fakta nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Jika dibandingkan dengan sifat welas asih dan kebijaksanaan tokoh agama lain macam Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, dan Dalai Lama maka tindak-tanduk Habib Rizieq sangat buruk dan mencoreng nama Islam itu sendiri.

Sebagai orang waras, saya hanya berusaha menularkan virus kewarasan yang mulai perlahan menghilang dari sebagian warga negara ini. Dogma memang bisa mematikan akal sehat dan hati nurani. Dengan bahasa halus maupun kasar saya tetap akan berjuang untuk menyembuhkan dan membuat akal sehat dan hati nurani mereka bisa berfungsi normal kembali. Jika ada yang bangga, mendukung dan membela orang ini maka jujur saja saya justru merasa malu karena seakan ajaran agama saya menjadi begitu rendah. Doa orang baik pastilah mengenai kebaikan saja. Jika doanya saja macam orang kesurupan gini pastilah kita bisa menilai kualitas jiwanya seperti apa.

Bagi saya doa orang kafir yang berbunyi "Semoga seluruh makhluk berbahagia" dan "Semoga damai di bumi sebagaimana di sorga" adalah jauh lebih baik, lebih berkualitas dan lebih waras dibandingkan doa Habib Rizieq seperti ini. Di mata saya orang ini (Habib Rizieq) sama sekali tidak paham hakikat agama dan sama sekali tidak mengenal Tuhan. Menurut saya kita harus mulai berani menyuarakan kebenaran. Lha wong orang ini teriak di jalan raya "Bunuh, Bunuh, Bunuh..." aja berani kok.....



Oleh: Muhammad Zazuli

Artikel Jendela Dunia Lainnya :

Scroll to top